Obat Yamaha Mio Mati Mendadak, Panjangin Kabel 5 cm!

OTOMOTIFNET – Awalnya mesin kayak mau mati. Namun setelah lewat gundukan atau polisi tidur yang ke sekian kali, mesin mati beneran. Benar-benar menyebalkan,” keluh Abi Hermansyah, warga Tanah Abang, Jakpus terhadap Yamaha Mio keluaran 2007 miliknya.

Kendala yang terjadi pada tunggangannya, dikeluhkan Abi ke Iswadi, pemilik sekaligus mekanik bengkel umum Brother Midnight. Setelah dilakukan general check-up selama 1 jam, si empunya bengkel dapat kesimpulan.

“Kabel pengapiannya ada yang putus. Tepatnya kabel positif warna oranye dari CDI menuju koil (gbr.1). CDI enggak ada masalah, indikasinya saat kabel warna cokelat pada perangkat tersebut dicolok dengan tespen (gbr.2), lampu tespen menyala,” kata pria yang buka praktek di Jl. KH. Mas Mansyur No. 55, Tanah Abang, Jakpus.

Bila dirunut, fisik kabel yang pendek jadi pemicu putusnya aliran listrik dari CDI. Hal tersebut disebabkan saat melewati polisi tidur, mesin Mio bergerak naik turun. Pergerakan tersebut membuat kabel ikutan tertarik.

“Secara berkala plus kabel yang kurang panjang, pergerakan mesin tersebut membuat aliran listrik tersendat dan ujung-ujungnya malah enggak ada listrik sama sekali yang mengalir alias koit,” terang Iswadi.

Bila dilihat secara kasatmata, memang kabel tersebut masih utuh. Namun bila dicek secara saksama, kendalanya akan terlihat. Miomania mau tahu cara pengecekan dan solusinya? Gampang dan bisa dilakukan sendiri kok.

Pengecekan paling awal dengan memeriksa letikan kabel busi. Caranya kabel busi didekatkan ground sambil distarter (gbr.3). “Bila ada masalah pada kondisi kabel, maka letikan api yang keluar tidak stabil. Kadang ada, kadang mati,” ungkap pria akrab disapa Adi.

Oke sudah tahu penyebab mesin Mio tiba-tiba mati, sekarang tinggal solusinya. Pertama-tama potong kabel CDI yang putus, sambung dengan kabel baru. “Cukup 5 cm saja (gbr.4). Langkah ini bertujuan agar gerak kabel positif koil lebih leluasa dan tidak ketarik-tarik oleh mesin saat lewat polisi tidur,” imbuh pria ramah ini.

Kelar kabel disambung, coba hidupkan mesin dan jajal Mio melibas gundukan atau polisi tidur berulang-ulang. Sekarang pastinya, suplai listrik enggak tersendat lagi. Jangan lupa, kelar sambung-menyambung, rakit kembali semua peranti yang telah dibongkar

Data tersebut diambil dari motorplus.otomotifnet.com

Advertisements

Apa Penyebab Lampu Belakang Redup?

Penyebab lampu belakang redup 1OTOMOTIFNET – Sebut saja Tony Satria, salah satu pemilik Honda Supra 125 keluaran 2006 ini enggak sadar kalo lampu remnya mulai redup.

Ujung-ujungnya, dia hampir saja disosor kendaraan lain dari belakang. “Waduh, bahaya banget, Mas!” keluhnya.

Emang betul, begitu dicek, penerang buritan terlihat remang-remang seperti lampu lima watt. Alhasil, sinarnya kurang jelas.

Nah menurut Gunawan dari bengkel Gaber Motor (GM), penyebab lampu belakang enggak terang bisa disebabkan beberapa hal.

Penyebab lampu belakang redup 2

Maka untuk mendeteksinya, bisa dimulai dari bagian aki. Pasokan listrik  yang sudah gak stabil bisa bikin lampu belakang temaram. Nah solusinya, periksa tegangan aki dengan alat avometer (gbr.1).

“Avometer dipakai untuk melihat tegangan listrik yang ada pada sumber listrik motor atau aki. Tegangan yang sesuai dan ideal yakni berkisar 12-12,3 Volt. Kalau kurang dari itu, tandanya aki harus dicharge. Dan jangan lupa bersihkan juga bagian konektornya dari kerak oksidasi,” urai Gunawan.

Penyebab lampu belakang redup 3

Bagian lain, seperti kabel lampu juga bisa jadi biang kerok. “Cek semua kabel yang berhubungan denga lampu belakang. Mungkin ada sambungan kabel yang bikin arus utama dari aki ke lampu belakang terganggu,” bilang pria yang kasih solusi baiknya kabel bodi utama diatur ulang.

Penyebab lampu belakang redup 4Masih remang-remang juga? Kalo gitu cek pemicu lainnya! Hal yang dimaksud adalah bagian soket-soket kabel (gbr.2) yang mengarah ke lampu belakang. Soket yang longgar bisa bikin arus tak stabil yang akhirnya bikin lampu belakang redup

Pastikan semua soket terpasang dengan benar dan kencang. Selain itu, mumpung soket lagi ‘dibedel’, sekalian saja bersihkan pakai cairan penetran yang banyak tersedia di pasaran dan dibanderol di kisaran Rp 25-100 ribuan.

Masih sayu juga? Coba cek bagian fitting lampu belakang (gbr.3) pada rumah bohlam. Mungkin di saat pemasangan bohlam, peranti tersebut dipasang dengan posisi yang salah. Ini biasa terjadi kalau saat pemasangan bohlam diputar salah arah.

Fitting lampu juga bisa dicek pakai avometer. “Kalau berkarat, tinggal bersihkan pakai ampelas halus dan semprot cairan penetran,” tutup Gunawan yang bukan artis Syahrul Gunawan ini

Data tersebut diambil dari motorplus.otomotifnet.com

Deteksi Belt Skutik Mau Putus, Waspada Setelah 15-20 Ribu Km

OTOMOTIFNET – Prinsip dasar kerja belt CVT pada motor skutik yakni mirip dengan rantai di motor non skutik. Nah masalahnya, part ini enggak selalu dapat dipantau karena posisinya yang tertutup boks CVT. Pentingkah memantau belt CVT?

Pasti! Sebab tali penghantar reduksi ini bisa saja putus karena pemakaian dan umur dari belt itu sendiri. Nah berhubung peranti ini enggak kelihatan, tentu ada cara tersendiri untuk mendeteksi belt yang mau putus tanpa harus buka boks CVT.

Caranya? Gini, sebenarnya belt yang sudah hampir die bisa dirasakan saat motor itu dipakai jalan. Umumnya, sabuk penggerak ini punya umur pemakaian hingga 15–20 ribu kilometer. Jika lewat dari kilometer yang ditentukan pabrik, baiknya rider harus waspada!

Ciri-cirinya? Nah menurut Bambang Suryo dari bengkel Putra Racing Sport, belt yang sudah minta ganti akan menimbulkan suara  berisik pada rumah CVT. Selain itu, juga berdampak negatif saat motor diajak berakselerasi.

“Saat gas diputar, tenaga yang dihasilkan tidak sesuai dengan putaran mesin atau selip,” jelas Bambang yang punya workshop di daerah Pondok Gede, Jaktim ini. Masih kurang yakin?

Pada ambang batas pemakaian 15 – 20 ribu kilometer, periksa kondisi fisik belt di dalam rumah CVT. “Biasanya kalau mau putus, terdapat keretakan pada belt bagian yang bergigi di sisi dalam (gbr.1),” lanjut bapak satu anak ini.

Selain itu, sudut di sisi samping belt terlihat lebih ramping atau tajam (gbr.2) dibanding belt standar. Bisa begitu lantaran permukaan tersebut terus-menerus bergesekan dengan puli (gbr.3) dan minim perawatan.

Gak mau usia belt cepat rusak? Kalau gitu, lakukan perawatan sederhana. Tinggal bongkar rumah CVT dan bersihkan debu-debu yang hinggap di belt dan sekitarnya pakai angin kompresor. Siklus perawatan tersebut bisa dilakukan tiap 3 kali masa penggantian oli mesin.

Atau dengan cara lain, yaitu melumasi perangkat CVT (gbr.4) menggunakan gemuk khusus. Eits, tapi jangan sembarangan melumasi bagian tersebut, sebab kalau salah bisa berakibat tarikan jadi selip karena belt gak bisa mencengkram puli.

Bagian yang dimaksud yakni dalam mangkok CVT yang bisa bikin belt kendur-kencang saat motor berakselerasi. “Di bagian dalam mangkok tersebut terdapat pelor-pelor. Nah pelor itulah yang harus diberi gemuk secukupnya,” tutup Bambang.

motorplus.otomotifnet.com

CVT Motor Matik Berisik? Ini Yang Harus Dicek!

20130904_CVTBerisik_1

Perjalanan yang menempuh jarak jauh sering menimbulkan masalah baru pada kendaraan ketika kembali ke rumah. Pengguna skubek misalnya. Banyak yang mengeluhkan suara berisik di area CVT ketika pulang dari perjalan jauh.

20130904_CVTBerisik_2

Seperti Ahmad Sholahudin. Pria akrab disapa Bejo ini, menuturkan masalah yang sering terjadi di skubek. Banyak konsumen bengkelnya yang mengeluhkan kondisi ini.

“Biasanya suara berisik di CVT muncul karena karet V-belt aus, roller peyang, grease CVT kering, atau bisa juga karena CVT kotor,” beber mekanik bengkel Bukit Jaya Motor di Jl. Raya Bukit Cinere No. 34, Jakarta Selatan.

Penyebab utama masalah ini, panas berlebih yang muncul saat CVT kerja keras. Lebih mudah muncul jika menemui jalan menanjak dan macet. Biasanya pengendara memanfaatkan putaran mesin untuk menahan laju motor agar tidak mundur.

Padahal, hal itu justru menyiksa kerja CVT sebagai penyalur tenaga ke roda. Manfaatkanlah fungsi rem untuk menahan motor saat di jalan menanjak.

Langkah yang harus dilakukan, membongkar CVT dan cek part satu persatu. Periksa roller masih mulus atau tidak. Lanjutkan memeriksa karet V-belt dengan cara dibalik, periksa setiap lekukan. “Pastikan tak ada retak yang berpotensi membuat V-belt putus,” saran Bejo.

Jika roller dan karet CVT masih bagus, lanjutkan pemeriksaan ke grease yang menjadi pelumas di area CVT. Panas berlebih membuat grease cepat kering dan bisa jadi penyebab bunyi-bunyian di area CVT.

Ingat, grease alias gemuk yang digunakan juga khusus. Biasanya dijual dengan harga Rp 8 ribu sepasang, untuk primer dan sekunder. (motorplus-online.com) 

Alasan Salah Satu Laher di Kruk-As Tetap Terikat

Laher di kruk as

Saat akan melepaskan kruk as dari crankcase, biasanya salah satu sisi bagian blok tengah mesin masih ‘terikat’ erat dengan laher kruk as. Padahal, pasangan blok tengah satunya dapat dengan mudah dilepas tanpa menemui kendala. Sehingga untuk memisahkannya, dibutuhkan alat bantu (tracker kruk as).

Lantas yang jadi pertanyaan, kenapa hanya satu bagian kruk as yang masih terikat kuat di crankcase. Sementara pasangan rumah bandul dan girbox yang satunya, lebih gampang dipisahkan tanpa didukung alat bantu?

“Pengalaman selama bongkar mesin memang seperti itu. Di motor bebek Honda, laher kruk as terikat dengan crankcase kanan. Sedang di motor bebek Yamaha, justru terbalik. Bagian laher di kruk as terikat di sebelah kiri blok tengah mesin,” ujar Suhartanto alias Kupret, mekanik Honda Daya Daytona NHK IRC.

Adapun alasan kenapa salah satu leher kruk as masih terikat kuat di crank-case, menurutnya lebih kepada faktor kestabilan mesin saat kruk as berputar rendah maupun tinggi. Sebab jika celah kedua laher kruk as longgar, efeknya bukan cuma getar berlebihan. Tapi, juga bisa menurunkan performa mesin.

Bahkan resiko paling fatal jika celah terlalu longgar. Saat mesin bergasing, sangat mungkin terjadi knocking antara kepala seher dengan head. Atau, bisa saja setang seher menonjok piston. “Makanya salah satu laher di kruk as tetap harus ada yang terpasang kuat di crankcase,” imbuh Kupret.

Selain itu, cara ini bertujuan menstabilkan beban pada magnet atau kopling sentrifugal. Kebetulan dua komponen ini terhubung dengan poros kruk-as tepat di sebelah kiri dan kanan bandul. Sedang bagian laher yang tidak terlalu kuat berfungsi menyeimbangi putaran mesin pada saat komponen ini memuai. 

Lekas Diganti, Tapi Jangan Asal
Jika laher kruk as di crankcase sudah kelihatan agak longgar, di motor harian memang nggak terlalu terasa ada perubahan dibandingkan di motor balap. Cuma kalau masalah ini didiamkan berlarut-larut, sangat mungkin komponen yang berhubungan dengan peranti tersebut dapat dengan mudah alami masalah.

Makanya biar nggak ngerusak komponen lain, pastikan salah satu laher di crankcase tidak longgar. “Segera diganti jika leher atau dudukannya sudah oblak. Dan, pastikan pakai laher standar bukan tipe racing. Biar tidak mubazir waktu dipakai,” ingat Kupret dari Jl. Raya Pos Pengumben, Srengseng, Jakarta Barat. (motorplus-online.com)

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑