Speedometer Digital KTC X – Style

KTC X-Style
KTC X-Style

Speedometer digital ini dikenal dengan nama KTC X-Style, lebih dulu populer di negri sakura dengan nama Kitaco X-Style. Selain bentuknya yang cukup unik, fitur yang dimilikinya pun cukup lengkap untuk sebuah speedometer aftermarket.

Fiturnya, antara lain:
1. Speedometer
= Speedometer mempertahankan kabel speedo standard motor yang biasa dikenal / disebut dengan ‘kabel pala nanas’, so untuk perhitungan akurasinya tidak perlu diragukan lagi. Pasang dan tancap saja, tidak perlu setting keliling roda dan jumlah sensor.

2. RPM
3. Odometer
4. Tripmeter
= Seperti penghitung jarak tempuh suatu rute, tentu saja bisa direset.

5. Max Speed Record
= Yang ini tentunya sangat asik untuk mengukur kecepatan max dari tunggangan kita, jadi bikers yang ingin ngukur kecepatan max tunggangannya tidak perlu nengok speedometer waktu perform, cukup putar gas saja. Asik bukan??

Sayang saja, speedometer tidak dilengkapi dengan fuelmeter. Namun tidak perlu khawatir buat bikers yang ingin mengaplikasikan speedometer ini, takut mogok karena tidak bisa pantau bensin. Hehehe..

Bikers bisa saja manfaatkan tripmeter (pencatat suatu jarak), tidak dibutuhkan skill khusus bukan untuk bisa mengenali kemampuan jarak yang ditempuh oleh motor di setiap 1 liter bensinnya. Mudah kan??

Untuk informasi dan negosiasi lebih lanjut bisa sms ato whatsapp ke 0817.651.8818.

Advertisements

Disc Brake Kawasaki Ninja 250R / Fi (320mm) & Z 250

Disc brake yang memiliki bahasa gaol ‘cakram’ ini memiliki diameter 320mm, kembali dihadirkan oleh KTC Racing dalam bentuk design baru. Lamanya produk ini muncul di pasaran dikarenakan sang maestro tidak ingin bermain-main dalam produk yang termasuk vital ini.

Disc Brake Ninja 250Tidak hanya itu, cakram ini memiliki fitur yang pasti yakni full floating, untuk cara kerjanya tanya mbah google aja ya (jangan males), hahaha..

Tentunya, tidak hanya sang kakak (Kawasaki Ninja 250R), kedua adik (Kawasaki Ninja 250 Fi & Kawasaki Z250) juga kebagian untuk versi PNP cakram ini. Perbedaan mendasar terletak pada jumlah dan posisi baut yang mengunci cakram / disc brake ini.

DSC_1503

Direncanakan hadir dalam 3 warna, yakni: Gold, Merah, & Hitam. Namun karena durasi produksi dan distribusi menuju ke tanah air ini, untuk saat ini hadir terlebih dahulu warna Gold.

DSC_1507

Dibanderol dengan harga sangat terjangkau sudah pasti, namun tidak mengorbankan kualitas, karena ini bicara nyawa bray! Minat?

DSC_1508

SMS / WA ke 0817.651.8818 untuk informasi lebih lanjut.

Bekas: Speedometer Kitaco X-Style

Speedometer ini memiliki diameter lingkar 55mm ato 5,5cm. Dengan display full digital dan layar berwarna biru, membuatnya semakin elegan. Speedometer ini sangat cocok diaplikasikan untuk cafe racer modern, 😀

Fitur yang dimiliki antara lain: Speedometer, Tachometer / RPM, Tripmeter, Odometer, Max Speed Record (Fungsi ini memungkinkan speedometer untuk merekam kecepatan maksimum sanggup dicapai dalam perjalanan).

Dinikmati picnya , kalo minat bisa langsung saja sms/whatsapp ke 0817.651.8818, pin bb 27F7 8229.

07 06 05 04 03 02 01

 

Komparasi Cop Busi Aftermarket Vs Orisinal Favorit, Mana Yang Lebih Bagus?

Searah jarum jam (atas tengah): CBR, V-ixion, cop busi nyala, HOL, YZ-125, Kitaco, TIger, Blade, Mio
Searah jarum jam (atas tengah): CBR, V-ixion, cop busi nyala, HOL, YZ-125, Kitaco, TIger, Blade, Mio

OTOMOTIFNET – Salah satu komponen dalam sistem pengapian adalah cop busi (CB). Berfungsi sebagai penghantar arus dari kabel busi ke busi. Kini di pasaran banyak ditemukan CB aftermarket. Namun banyak juga CB bawaan motor yang jadi favorit.

Untuk memberi panduan, mana sih yang bisa dipilih untuk motor kesayangan, kami mengomparasinya. Parameternya ada 3, yaitu tahanan, kualitas sil dan tentu saja harga.

Tahanan berhubungan dengan daya hantar CB tersebut, makin kecil tentu arus yang bisa dihantar ke busi makin maksimal. Efeknya api di busi makin besar. “Memang bisa makin besar, namun hanya berpengaruh pada putaran bawah sampai menengah,” terang Tomy Huang, pencetus CDI BRT.

Masih menurutnya, tahanan tetap diperlukan. “Untuk menahan radiasi,” ujarnya. Radiasi pengapian sering mengganggu lingkungan, seperti gambar televisi jadi bergoyang. Selain itu, “Lama-lama bisa berakibat merusak komponen motor, seperti spidometer digital,” lanjut Tomy Huang.

Bicara kualitas sil, berhubungan dengan daya lindung CB terhadap busi. Terutama dari air dan daya tahan terhadap panas. CB yang bagus punya sil yang kuat dan elastis, sehingga bisa mencegah air menyusup ke busi yang berakibat pengapian bocor. Juga tahan lama walaupun kena panas mesin.

Untuk harga, tentu saja berhubungan dengan kantong, ya enggak? Hehe… Peserta komparasi dari aftermarket ada merek Kitaco, Hol dan Cop Busi Nyala. Sedang part orisinal ada dari Honda CBR, Blade, Tiger. Lalu dari Yamaha Mio dan V-Ixion.

Untuk mengetahui hambatan, CB diukur pakai multitester digital merek Sanwa tipe CD800a. Untuk kualitas sil, diamati secara visual dan coba dipasang pada sebuah busi.

Kitaco
Paling mencolok, karena warna oranye! Saat diukur tahanan yang terbaca 0 Ohm, sama sekali tak ada hambatan. Selain itu kualitas sil harus diperhatikan lagi, karena kendati elastis, saat dipasang pada busi terlihat sangat longgar. Selain air gampang masuk, CB juga bisa lepas dari busi kala kena getaran mesin. Kelebihannya, pemasangan dengan kabel busi diberi klem yang dibaut, sehingga kuat. Harganya berkisar Rp 30 ribu.

Hol
Bentuknya mirip part orisinal, namun finishing harus dibenahi lagi. Tahanan kala dites juga menunjukkan angka 0 Ohm. Sil tergolong bagus, mendekap cukup kencang dan penuh pada badan busi. CB ini dihargai Rp 25 ribu.

Cop Busi Nyala
Di kemasannya hanya dicantumkan nama tersebut. Sesuai namanya, CB ini menyala kala terpasang, sempat booming beberapa waktu lalu. Nilai hambatan CB ini cukup mengagetkan, mencapai 21.960 Ohm. Terbesar pada komparasi ini. Kualitas sil kurang mendukung, sangat kaku dan tak rapi. Sangat tidak direkomendasi kala hujan. Harganya hanya Rp 4.650.

Yamaha Mio
Salah satu CB terfavorit di kalangan tim balap. “Mendekap sangat kencang dan ada tahanan airnya,” urai Ari Black, salah satu mekanik balap tim Aries Putra. Memang kualitas CB Mio silnya sangat bagus, kenyal dan bagian depan ada bagian mirip payung, sehingga air tak mungkin masuk. Tahanannya kala diukur hanya 4.930 Ohm. Harganya sekitar Rp 45 ribu.

Yamaha V-Ixion
Cukup sering digunakan pengguna motor sport. Hambatannya terbaca 5.100 Ohm. Kualitas sil tergolong bagus dan menutup ¾ badan busi. Dengan model panjang, bisa dijadikan kala pakai koil yang kabel businya pendek. Harganya berkisar Rp 40 ribu.

Honda Tiger
Kualitas sil cukup bagus. Artinya kenyal dan tak mudah sobek. Sayang lubang cukup besar, sehingga masih menyisakan sedikit celah yang memungkinkan air masuk. Harga CB yang punya tahanan 5.000 Ohm ini hanya Rp 15 ribu.

Honda Blade
Secara harga, penampilan dan kualitas mirip dengan milik Tiger, bedanya terletak pada nilai tahanan. Milik Blade hanya 4.950 Ohm.

Honda CBR 150R
Bentuk dan kualitas mirip milik Yamaha V-Ixion. Namun mendekap busi sampai penuh. Tahanannya mencapai 5.200 Ohm. Sayang, harga tak bisa dipatok, lantaran cukup sulit didapat.

Yamaha YZ-125

Menjadi wakil dari motor Special Engine (SE). Memang sangat sulit didapat sehingga harga pun tergolong ‘gelap’, namun untuk kategori barang orisinal, tahanannya paling rendah, hanya 4.750 Ohm. Sayang, meskipun sil kenyal, namun lubang sangat besar sehingga saat dipasang mudah copot.

Data harga cop busi      
Merek Tahanan Kualitas sil Harga
Kitaco 0 OHM kurang 45 ribu
Hol 0 OHM bagus 25 ribu
Cop busi Nyala 21.960 OHM kurang 4.650
Yamaha Mio 4.930 OHM sangat bagus 45 ribu
Yamaha V-ixion 5.100 OHM bagus 40 ribu
Honda TIger 5.000 OHM cukup 15 ribu
Honda Blade 4.950 OHM cukup 15 ribu
Honda CBR 150R 5.200 OHM bagus
Yamaha YZ – 125 4.750 OHM kurang

Data tersebut diambil dari motorplus.otomotifnet.com

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑